Selasa, 13 November 2012

Cinta tanpa komitmen dan kepercayaan

Baru aja gue baca salah satu cerpen dari buku nya Tere Liye. Cerita yang akan gue kasih di bawah ini adalah kisah tentang Rama dan Shinta.

Cinta yang besar tanpa disertai komitmen dan kepercayaan, maka ia hanya akan menelan diri sendiri.

Siapa yang tidak mengenal Rama, pangeran gagah dari kerajaan Kosala. Ia tampan tak terkira. Semua orang akan terpesona hanya dengan menatap wajahnya.
Siapa pula yang tidak kenal Shinta, gadis rupawan putri kerajaan Wideha? Ia cantik tak terperi. Semua orang bahkan terpesona hanya dengan mendengar bisik-bisik bagaimana jelita rupanya.
Pada suatu hari, Raja Wideha mengumumkan sayembara demi mencari pangeran untuk putrinya karena Shinta telah menginjak usia yang pantas untuk menikah. Maka alangkah bersemangatnya pangeran-pangeran dari seluruh kerajaan, membayangkannya saja sungguh aduhai memiliki istri sesempurna Shinta.
Sayembara yang dilakukan adalah menarik busur pusaka kerajaan Wideha, yang dihadiahkan oleh Dewa Siwa ke bumi. Seperti cerita pada umumnya, Rama lah yang dapat menarik busur tersebut. Setelah itu pernikahan pun dilangsungkan.
Lepas pernikahan, pasangan muda itu kembali ke kerajaan Kosala. Rama yang saat itu akan diangkat menjadi Raja oleh ayahnya membawa dengan bangga Shinta ke kerajaan. Namun, kalian tahu kan semua kisah cinta tidak ada yang berjalan mulus?
Ibu tiri Rama menginginkan anaknyalah yang mendapatkan tahta sebagai raja. Oleh karena itu dengan segala kelicikannya Rama pun diasingkan ke hutan selama empat belas tahun dan putranya menjadi Raja. Ayah Rama kemudian meninggal dengan ketidaktenangan.
Apa yang dilakukan Shinta atas penderitaan itu? Ia tidak pergi. Bagi Shinta, segala urusan sederhana, ke manapun Rama pergi, ia akan terus mengabdi.
Empat belas tahun tinggal di hutan bukanlah hal yang sederhana, banyak rintangan yang dihadapi oleh Rama dan Shinta. Hingga pada puncaknya Rahwana, Raja Alengka, menculik Shinta yang jelita. Rahwana adalah raksasa yang kekuatannya dapat mengalahkan para dewa.
Maka dimulailah cerita yang termahsyur itu. Petualangan Rama menyelamatkan kekasih hatinya, Shinta. Rama meminta bantuan ribuan manusia kera yang dipimpin oleh Hanoman ke medan perang. Juga ribuan ksatria lainnya yang terketuk hatinya melawan Rahwana.
Setelah melalui perjalanan yang sangat jauh, terjadilah duel dahsyat antara Rama dan Rahwana yang menjadi legenda. Dentum merah, kuning, biru membuat terang langit malam. Panah sakti milik Rama, yaitu panah Dewa Siwa, akhirnya menghujam ke dada Rahwana. Raja raksasa paling sakti itu pun kalah dan Shinta berhasil diselamatkan.
Akibat dari berita itu, Rama diangkat menjadi raja di kerajaan Kosala. Hingga pada suatu hari terbersit kabar miring mengenai Shinta. Apalagi selain kabar miring : Shinta sudah tidak suci lagi. Berbulan-bulan ditawan Rahwana, siapa yang bisa memastikan Shinta dapat menjaga diri?
Rama yang mendengar kabar itu langsung mengajak adik Rama yang selalu menemani nya saat berpetualang, Laksmana, untuk berdiskusi. Keputusan besar diambil Rama, Shinta harus melewati ujian kesucian yaitu melewati api yang berkobar tinggi. Jika Shinta selamat, maka tak ada lagi keraguan.
Laksmana yang sangat menentang hal itu pun pada akhirnya berkata, "Ujian ini hanya dilakukan untuk menutupi resah di hati kakanda. Besok, Shinta akan melewati kobaran api itu, tetapi kakanda tak akan pernah berhasil memadamkan keresahan itu."
Ujian kesucian dilakukan di halaman istana. Apakah Shinta menolak? Merasa dilecehkan oleh ujian tersebut? Shinta bahkan tidak memikirkan hal terburuk sedikitpun. Ia tidak merasa suaminya melecehkan dirinya. Ujian ini hanya untuk membuktikan pada rakyat. Jangankan diminta melewati kobaran api suci, diminta melakukan hal lain pun Shinta sanggup.
Hingga akhirnya Shinta berhasil melalui ujian itu. Namun, terdengar selentingan kabar lagi bahwa api itu memiliki kesaktian agar Shinta tidak terbakar di dalamnya. Mendengar kabar itu, Rama mengajak Hanoman berdiskusi. Keputusannya ialah mengasingkan Shinta ke hutan.
Duhai ke manakah cinta mereka selama ini? Empat belas tahun diusir dari kerajaan dan Shinta menemani Rama, membuktikan pengabdiannya. Berbulan-bulan saat ditahan oleh Rahwana pun, tak berhenti-berhentinya Shinta menyebut nama Rama.
Hanoman menggeleng sedih,"Bukan rakyat yang membutuhkan bukti paduka, tapi andalah yang membutuhkannya. Esok lusa, Shinta akan berhasil melalui masa pembuangannya, tapi paduka tidak akan pernah mampu melewati rasa resah itu."
Singkat cerita Shinta yang bertahun-tahun menjalani hukuman dengan tabah pada akhirnya melahirkan dua anak yang sangat rupawan dan memiliki bakat menjadi ksatria. Hingga pada akhir waktu hukuman, Shinta menunggu Rama untuk menjemputnya namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Rama. Walaupun seperti itu, Shinta tetap menunggu sampai dua belas tahun kemudian ketika anak-anaknya beranjak dewasa.
Anak-anak itu, yang bernama Lawa dan Kusa mengetahui penderitaan ibu mereka. Maka dengan segala rasa benci yang tertanam mereka bersumpah membalas dendam pada ayah mereka.
Sampailah pada saat itu, Lawa dan Kusa menyerang kerajaan Kosala. Mereka yang masih berusia dua  belas tahun menandingi ribuan prajurit kerajaan. Tapi apalah arti semua itu dibanding rasa benci yang tertanam di dalam dada mereka.
Selangkah sebelum mereka melawan ayah mereka, Shinta yang sebelumnya mendengar kabar tersebut menghentikan pertikaian. Dia menangis, mendongak, menatap wajah yang selama ia cintai selama ini. Mengatakan bahwa kedua anak tersebut adalah anak Rama. Demi mendengar itu, penduduk langsung berkasak kusuk membicarakan anak Raja yang menghancurkan negrinya sendiri.
Hanya sejenak saja buncah kebahagiaan di hati Rama melihat istrinya kembali. Sejenak kemudian prasangka dan kecurigaan itu muncul lagi. Rama menggeleng, tidak mungkin mereka anakku.
Hingga Shinta meminta bumi untuk menelannya dan bumi pun mengikuti apa yang diinginkan Shinta. Rama yang melihat hal itu, menyesali segala perbuatannya namun apa mau dikata nasi telah menjadi bubur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar